SMS TERAKHIR

Lama tertawan oleh duka. Gairah beraktivitas nyaris terbenam. Lebih banyak waktu tersita termenung. Pikiran saya pun suka melantur terbawa perasaan. Duh, duka!

***

Melur Simanjuntak terlahir dan bertumbuh besar di kota Balige, Sumatera Utara, 36 tahun silam. Dengan predikat Sarjana Ekonomi, gadis yang juga Facebooker ini bekerja sebagai PNS di Dinas Kesehatan Kota Dumai, Propinsi Riau. Di kota ini juga tinggal 3 kakak dan seorang adiknya laki-laki. Keempatnya sudah berumah tangga.
Empat tahun yang lalu, Melur menjalani operasi mengangkat benjolan kecil di leher dekat dada. Kata dokter, benjolan itu karena peradangan pada kelenjar pankreas.
Belakangan ini, ada yang ganjil pada physik Melur. Jika berjalan, tangan kanannya terlihat menggantung bagai beban berat. Wajahnya meringis menahan rasa sakit. Jika ditanya, jawabnya selalu karena terkilir.
Melur merahasiakan penyakitnya. Ibu dan abangnya di Balige, kakak dan adiknya di Dumai, sahabat pun rekan sekantornya, semuanya tidak tahu. Semua orang dia bohongi, bahkan para dokter rekannya sekantor.
“Dok,” kata Melur suatu saat. “Jika penyakitnya anu dengan kondisi eks, apa obatnya?” “Siapa yang sakit?”
“Teman saya, Dok.”
“Suruh saja dia datang untuk diperiksa.”
“Dia tidak mau, Dok. Mungkin tebentur masalah biaya.”
Dokter itu memberikan resep obat dengan pesan agar teman Melur bersedia untuk diperiksa.
Hingga suatu hari. Seorang rekan sekantor Melur menelepon Mak Pioner, kakak sulung dari Melur. Bahwa Melur mulai sering mangkir bekerja. Mak Pioner kaget. Bergegas dia menuju tempat tinggal Melur. Astaga! Melur terbaring lemah dan mengalami pendarahan.
Melur akhirnya memberitahu kakaknya tentang penyakit yang dideritanya. Mak Pioner pun bersimbah air mata. Karena menolak ke luar negeri, hari itu juga Melur dibawa ke Pekanbaru lalu diterbangkan ke Jakarta.
Melur dirawat inap di Rumah Sakit Dharmais Jakarta. Kanker stadium empat akhir! Prediksi dokter, kecuali oleh mukjizat Allah, usia Melur paling lama dua minggu lagi.
Dokter memaparkan tiga opsi. Mak Pioner memilih opsi pertama. Melakukan upaya pengobatan, berharap ada mukjizat kesembuhan oleh kuasa Tuhan.
Tanggal 20 April 2011. Melur diberi Chemotherapy. Esoknya, kondisi Melur makin melemah.
Hari Jumat Agung 22 April 2011. Pada hari Wafatnya Yesus Kristus/Nabi Isa ini, Melur memaksakan diri menelepon banyak orang. Seharian, dari pagi hingga larut malam.
Kepada atasannya di Dumai, Melur berpesan, “Pak ….. Tolong dipersiapkan mobil ambulans menjemput jenazah saya di bandara Pekanbaru …..”
Kepada kakanya nomor tiga di Dumai, “Kak ….. Ini permintaan saya terakhir ….. Jenazah saya harus dibawa ke Dumai ….. Usai acara di Dumai ….. Barulah dibawa ke rumah ibu di Balige ….. Kantor saya sudah siap fasilitas dan biaya ….. Beritahu ibu dan abang ……”
Jumat malam itu, yang menjaga Melur adalah Mak Rio, kakak Melur nomor dua di Bekasi. Kemarin, Kamis, Mak Pioner pulang ke Dumai mengurus puterinya ke Medan untuk persiapan testing masuk Perguruan Tinggi Negeri. Mak Pioner janji akan kembali ke Jakarta pada Sabtu pagi sekalian membawa ibu.
Jumat malam, sekitar pukul delapan. Melur berkata kepada Mak Rio untuk membuka SMS di ponselnya. “Coba buka SMS terakhir, Kak. Baca isinya.” “Ini SMS terakhir,” kata Mak Rio. “Dari Mega.”
“Bukan itu!” seru Melur dengan suara parau.
“Ini, lihat!” kata Mak Rio. Ponsel pun diperlihatkan kepada Melur. Benar, SMS terakhir adalah dari Mega, sahabatnya satu SMA dulu. Melur terlihat berwajah kecewa.

*****

Kami rahasiakan kepada ibu penyakit Melur yang sebenarnya. Kami hanya katakan, kelenjar pankreas Melur mengulah lagi. Kami tak ingin ibu ke Jakarta sehingga tahu yang sebenarnya. Soalnya, kondisi kesehatan ibu labil oleh ragam penyakit di usia tuanya.
Namun Jumat sore 22 April, Mak Pioner menelepon saya. “Bang,” katanya. “Nanti malam saya ke Medan. Besok pagi usai urusan, terbang ke Jakarta. Melur berpesan agar saya membawa ibu.”
Meski berat hati dan khawatir, saya terpaksa menyetujuinya. Jumat malam itu, saya mempersiapkan keberangkatan ibu ke Medan.
Sabtu 23 April 2011 sekitar pukul 09:45. Saya diberitahu bahwa Melur menghembuskan nafas terakhir setengah jam yang lalu.
Saya telepon Mak Pioner. Ponselnya tidak aktif. Cerita Mak Pioner di kemudian hari, bahwa Mak Pioner sudah tahu Melur wafat, seperempat jam sebelum menaiki pesawat di bandara Polonia. Ibu tidak diberitahu hal itu. Keduanya tetap berangkat ke Jakarta. Kisah Mak Rio.
Melur selalu tanyakan SMS terakhir di ponselnya. Melur selalu kecewa. SMS terakhir yang dia harapkan tak kunjung ada hingga tertidur oleh lelah. Bahkan esoknya, Sabtu pagi, hingga ajal menjemputnya, SMS terakhir dari pria cinta pertama dan terakhir, tak juga datang.

Dipublikasi di KISAH | Meninggalkan komentar

Detik Pengukuhan Kepengurusan SIPASADA Bonapasogit

Balige, 29 Januari 2011.
Pukul 08:00 WIB.

Cuaca kota Balige mendung. Hari ini Sabtu, akan dikukuhkan kepengurusan Simanjuntak Siopat Sada Ama (SIPASADA) Boru dan Bere, Pomparan Raja Marsundung, untuk wilayah Bonapasogit. Acara akan berlangsung di Lapangan Sisingamangaraja XII, Balige pada pukul 11:00 WIB.

Reporter majalah elektronik SIPASADA meluncur mengitari Balige. Lalu lintas agak sepi. Mendung tetap menggelantung di langit.

Pukul 08:45.
Di Lapangan Sisingamangaraja, terlihat panitia sibuk mempersiapkan segala keperluan. Personal musik juga sibuk mengatur peralatan. Beberapa panitia terkesan gelisah. Langit masih mendung.

Pukul 09:00.
Reporter SIPASADA kembali meluncur ke kota. Melewati beberapa salon kecantikan, terlihat ibu-ibu ditata sanggulnya. Melewati sebuah Ruko (Rumah Toko), seorang bapak setengah tua berdiri di depan Ruko. Kepalanya mengarah ke langit mendung. Ada senyum indah di bibirnya. Seakan senyum kepada sang kekasih.

Pukul 09:45.
Mendung tetap tidak bersahabat. Kembali ke Lapangan Sisingamangaraja. Jejeran kursi dibawah tenda/teratak masih lengang. Dari 1.000 kursi, baru seratusan yang terisi oleh tamu/undangan. Target panitia, mimimal dihadiri 600 orang.

Pukul 10:15.
Lalu lintas di kota mulai ramai. Kenderaan bermotor roda dua dan empat umumnya mengarah ke Lapangan Sisingamangaraja. Cuaca sedikit cerah.

Pukul 10;30.
Mendung digantikan kecerahan. Deretan kursi di lapangan Sisingamangaraja mulai terisi. Dan akhirnya semua kursi terisi. Bahkan seratusan orang mengambil tempat di Tribun Lapangan Sisingamangaraja. Panitia pesan 100 kursi tambahan.

Pukul 11:10.
Acara dimulai. Diawali dengan kebaktian. Sebelum penyampaian Khotbah, pengukuhan kepengurusan SIPASADA Bonapasot dilaksanakan.

Cuaca makin cerah seusai acara pengukuhan.

Dipublikasi di Berita | Meninggalkan komentar

Pengukuhan Kepengurusan SIPASADA Bonapasogit

Balige, 29 Januari 2011.

Diawali dengan acara Kebaktian di Lapangan Sisingamangaraja XII Balige, dilaksanakan acara Pengukuhan Kepengurusan Simanjuntak Siopat Sada Ama (SIPASADA) Boru dan Bere, Bonpasogit. Pengukuhan dilakukan utusan marga Simanjutak Parsuratan, Mardaup, Sitombuk, dan Hutabulu.

Acara berlangsung khidmat, penuh haru dan sukses. Panitia targetkan undangan yang hadir 600 orang. Kenyataannya, lebih dari 1.100 orang yang hadir pada acara tersebut.

Meskipun panitia targetkan (minimal) 600 orang, tetapi panitia pesan 1.000 buah kursi. Pada saat acara akan dimulai, banyak orang berdatangan. Kursi penuh, bahkan seratusan orang terpaksa mengambil tempat di Tribun. Panitia pesan 100 kursi tambahan. Masih juga kurang, beberapa puluh orang masih ada di Tribun.

Pengukuhan Kepengurusan SIPASADA (Simanjuntak Siopat Sada Ama) Boru dohot Bere (Pomparan Raja Marsundung), Bonapasogit, dilkukan oleh orang tua yang mewakili Parsuratan, Mardaup, Sitombuk, dan Hutabulu. Acara ini juga dihadiri utusan dari Tulang marga Hasibuan dan marga Sihotang, dan utusan boru yaitu marga Sirait (Namora Jobi).

Usai pengukuhan kepengurusan SIPASADA Bonapasogit, khotbah disampaikan Pendeta Sihotang. Dalam khotbahnya, Pendeta Sihotang mengutarakan bahwa ‘problema’ marga Simanjuntak telah menjadi virus kepada marga lain. Jika misalnya marga Siregar mempunyai dua hela dan/atau parumaen dari Simanjuntak yang beda ‘horbo’ maka umumnya terjadi kekurangharmonisan di keluarga Siregar tersebut.

Sebetulnya, di beberapa kota telah terbentuk ‘punguan’ (organisasi) SIPASADA. Dan sekarang terbentuk SIPASADA Bonapasogit. Tujuannya mempersatukan kembali marga Simanjuntak yang puluhan tahun terpecah dalam dua ‘Kelompok’. Pengurus yang dikukuhkan :
Ketua: Drs. Wasir Simanjuntak (Mardaup), Wakil Ketua Alfaris Simanjuntak (Parsuratan), Sekretaris : Jhonny Simanjuntak (Hutabulu), Wakil Sekretaris: Budi Oval Simanjuntak (Hutabulu), Bendahara: Guntur Simanjuntak (Parsuratan), Wakil Bendahara: Baringin Manalu (boru ni Simanjuntak Sitombuk), serta di seksi-seksi antara lain: Bima Simanjuntak (Sitombuk), Panji Simanjuntak (Sitombuk), Tiolan Simanjuntak (boru, Hutabulu), Saut Simanjuntak (P), Turman Simanjuntak (P), Lambok Simanjuntak (P), Lumumba Hutagaol (bere Hutabulu).

Acara pengukuhan dihadiri rombongan SIPASADA dari Jabotabek, Medan, Dairi/Sidikalang, dan Pekanbaru. Kemudian hadir juga rombongan marga Simanjuntak dari Sipahutar, Siborongborong, Doloksanggul, Laguboti, Silaen, Habinsaran dan daerah lainnya.

Dipublikasi di Uncategorized | 2 Komentar

SIPASADA -Simanjuntak Siopat Sada Ama -Bonapasogit

SIPASADA BONAPASOGIT

Simanjuntak Siopat Sada Ama, Boru dohot Bere, Pomparan Raja Marsundung, Bonapasogit.

Raja Marsundung (kakek moyang marga Simanjuntak) mempunyai dua isteri. Dari boru Hasibuan (isteri pertama) lahir seorang putera bernama Raja Parsuratan. Dari boru Sihotang (isteri kedua) lahir 3 putera – bernama Raja Mardaup, Raja Sitombuk, Raja Hutabulu – dan seorang puteri bernama Naompon.

Tidak jelas bagaimana dan oleh siapa, dikemudian hari ada istilah/sebutan ‘Parhorbo Jolo’ untuk marga Simanjuntak keturunan Raja Prsuratan. Dan sebutan ‘Parhorbo Pudi’ untuk Simanjuntak keturunan Raja Mardaup, Raja Sitombuk dan Raja Hutabulu.

Ragam versi cerita tentang ‘pecahnya’ marga Simanjuntak menjadi dua kelompok, Parhorbo Jolo dan Parhorbo Pudi. Apakahi ini juga hasil pekerjaan penjajah Belanda dengan ‘Divide et Impera’ (pecah belah lalu kuasai) ? NAMUN (hasil penelusuran dan kisah beberapa orang tua marga Simanjuntak dan marga lain) perpecahan marga Simanjuntak ‘mengemuka’ pada tahun 1960-an saat Partai Komunis Indonesia sedang jaya-jayanya.

Ada yang kurang elok jika dua orang marga Simanjuntak berkenalan. Umumnya, salah seorang akan berkata, “Simanjuntak dia ma ho?” atau “Simanjuntak nomor piga ma ho?”

Jika kedua orang itu adalah Simanjuntak dari kelompok yang sama, maka perkenalan tersebut akan berlanjut hangat dan mesra. Akan tetapi jika beda kelompok, maka perkenalan kedua orang marga Simanjuntak itu akan berlanjut kaku bahkan bisa ‘bubar’ saat itu juga.

Tidaklah mengherankan apabila ada pihak atau orang yang iseng (pun sengaja) menciptakan kisah lucu namun ironis tentang marga Simanjuntak. Misalnya jika di satu bus, ada penumpang marga Simanjuntak Parhorbo Jolo dan Simanjuntak parhorbo Pudi, maka bus tersebut akan mengalami kerusakan. Pecah ban, mesin mogok, atau kecelakaan. Juga jika marga Simanjuntak yang dua kelompok tersebut menghadiri suatu pesta, maka nasi tidak akan bisa masak atau meleleh jadi bubur. Dan ragam kisah tak logis lainnya.

Sejak tahun 1960-an sudah ada upaya untuk mempersatukan kembali marga Simanjuntak keturunan Raja Marsundung. ‘Bendera’ Raja Marsundung diusung untuk mempersatukan marga Simanjuntak. Maka Punguan (Pomparan) Raja Marsundung berdiri di berbagai kota di seantero Indonesia.

Belakangan ini muncul organisasi/punguan Simanjuntak Siopat Sada Ama (SIPASADA) Pomparan Raja Marsundung dengan tujuan yang sama yaitu mempersatukan marga Simanjuntak. Punguan SIPASADA ini sebenarnya sudah lama ada dan terbentuk di berbagai kota. Akan tetapi khusus untuk Bonapasogit, barulah pada akhir Desember 2010 dijajaki pembentukannya.

Raja Tartar Simanjuntak (Ketua SIPASADA Pekanbaru) memelopori pembentukan SIPASADA Bonapasogit. Raja Tartar Simanjuntak merelakan waktu, pikiran, tenaga hingga materi demi terbentuknya SIPASADA Bonapasogit. Beliau beberapa kali ke Balige (pun ke Medan dan Jakarta) untuk urusan tersebut.

Dan akhirnya terbentuklah punguan SIPASADA (Simanjuntak Siopat Sada Ama) Boru dohot Bere Pomparan Raja Marsundung, untuk wilayah Bonapasogit yang meliputi Kabupaten Toba Samosir (Tobasa), Tapanuli Utara (Taput), Humbang Hasundutan (Humbanghas) dan Samosir. Kepengurusan SIPASADA Bonapasogit ini direncanakan dikukuhkan pada hari Sabtu 29 Januari 2011 di Lapangan Sisingamangaraja, Balige.

Dipublikasi di Berita | 1 Komentar