SIPASADA -Simanjuntak Siopat Sada Ama -Bonapasogit

SIPASADA BONAPASOGIT

Simanjuntak Siopat Sada Ama, Boru dohot Bere, Pomparan Raja Marsundung, Bonapasogit.

Raja Marsundung (kakek moyang marga Simanjuntak) mempunyai dua isteri. Dari boru Hasibuan (isteri pertama) lahir seorang putera bernama Raja Parsuratan. Dari boru Sihotang (isteri kedua) lahir 3 putera – bernama Raja Mardaup, Raja Sitombuk, Raja Hutabulu – dan seorang puteri bernama Naompon.

Tidak jelas bagaimana dan oleh siapa, dikemudian hari ada istilah/sebutan ‘Parhorbo Jolo’ untuk marga Simanjuntak keturunan Raja Prsuratan. Dan sebutan ‘Parhorbo Pudi’ untuk Simanjuntak keturunan Raja Mardaup, Raja Sitombuk dan Raja Hutabulu.

Ragam versi cerita tentang ‘pecahnya’ marga Simanjuntak menjadi dua kelompok, Parhorbo Jolo dan Parhorbo Pudi. Apakahi ini juga hasil pekerjaan penjajah Belanda dengan ‘Divide et Impera’ (pecah belah lalu kuasai) ? NAMUN (hasil penelusuran dan kisah beberapa orang tua marga Simanjuntak dan marga lain) perpecahan marga Simanjuntak ‘mengemuka’ pada tahun 1960-an saat Partai Komunis Indonesia sedang jaya-jayanya.

Ada yang kurang elok jika dua orang marga Simanjuntak berkenalan. Umumnya, salah seorang akan berkata, “Simanjuntak dia ma ho?” atau “Simanjuntak nomor piga ma ho?”

Jika kedua orang itu adalah Simanjuntak dari kelompok yang sama, maka perkenalan tersebut akan berlanjut hangat dan mesra. Akan tetapi jika beda kelompok, maka perkenalan kedua orang marga Simanjuntak itu akan berlanjut kaku bahkan bisa ‘bubar’ saat itu juga.

Tidaklah mengherankan apabila ada pihak atau orang yang iseng (pun sengaja) menciptakan kisah lucu namun ironis tentang marga Simanjuntak. Misalnya jika di satu bus, ada penumpang marga Simanjuntak Parhorbo Jolo dan Simanjuntak parhorbo Pudi, maka bus tersebut akan mengalami kerusakan. Pecah ban, mesin mogok, atau kecelakaan. Juga jika marga Simanjuntak yang dua kelompok tersebut menghadiri suatu pesta, maka nasi tidak akan bisa masak atau meleleh jadi bubur. Dan ragam kisah tak logis lainnya.

Sejak tahun 1960-an sudah ada upaya untuk mempersatukan kembali marga Simanjuntak keturunan Raja Marsundung. ‘Bendera’ Raja Marsundung diusung untuk mempersatukan marga Simanjuntak. Maka Punguan (Pomparan) Raja Marsundung berdiri di berbagai kota di seantero Indonesia.

Belakangan ini muncul organisasi/punguan Simanjuntak Siopat Sada Ama (SIPASADA) Pomparan Raja Marsundung dengan tujuan yang sama yaitu mempersatukan marga Simanjuntak. Punguan SIPASADA ini sebenarnya sudah lama ada dan terbentuk di berbagai kota. Akan tetapi khusus untuk Bonapasogit, barulah pada akhir Desember 2010 dijajaki pembentukannya.

Raja Tartar Simanjuntak (Ketua SIPASADA Pekanbaru) memelopori pembentukan SIPASADA Bonapasogit. Raja Tartar Simanjuntak merelakan waktu, pikiran, tenaga hingga materi demi terbentuknya SIPASADA Bonapasogit. Beliau beberapa kali ke Balige (pun ke Medan dan Jakarta) untuk urusan tersebut.

Dan akhirnya terbentuklah punguan SIPASADA (Simanjuntak Siopat Sada Ama) Boru dohot Bere Pomparan Raja Marsundung, untuk wilayah Bonapasogit yang meliputi Kabupaten Toba Samosir (Tobasa), Tapanuli Utara (Taput), Humbang Hasundutan (Humbanghas) dan Samosir. Kepengurusan SIPASADA Bonapasogit ini direncanakan dikukuhkan pada hari Sabtu 29 Januari 2011 di Lapangan Sisingamangaraja, Balige.

About these ads

Tentang sipasadamarsundung

Lahir di Balige 10 Juni 1962. Sempat kuliah di Jakarta beberapa semester. Saat itu mulai menulis Cerita Pendek (Cerpen) dan Artikel, khususnya di surat kabar harian Sinar Indonesia Baru (Sib) terbitan Medan. Setelah menderita sakit bertahun-tahun dan menjalani ragam pengobatan medis dan tradisional/alternatif, akhirnya ayah meninggal pada 25 Desember 1983. Februari 1984, saya kembali ke Balige, kemudian memutuskan berhenti kuliah demi kelanjutan sekolah adik-adik saya. Kegiatan menulis di harian Sib makin aktif. Tahun 1985 merupakan masa paling produktif sebagai penulis (kemudian menjadi wartawan Sib di Kabupaten Tapanuli Utara). Ragam julukan diberikan kawan pun pembaca kepada saya. Penulis kontroversial, penulis sensitif, Guru Natigor (Guru yang Lurus), bahkan (almarhum) GM Panggabean (Pemimpin Redaksi harian Sib) menyebut saya sebagai 'Tukang Sorot' bagai Lampu senter 4 baterai. Kabupaten Toba Samosir (Tobasa) terbentuk 9 Mei 1988, hasil pemekaran dari Kabupaten Tapanuli Utara. Tahun 2000, saya mulai terjuni lagi dunia jurnalistik. Kemudian turut menjadi aktivis dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Pada tahun 2008, saya mulai 'bermain-main' di dunia Internet. Meskipun saya sadar/merasa bahwa saya sudah terlalu tua untuk belajar di dunia maya yang super canggih ini, namun saya pikir lebih baik berbuat apa adanya sesuai kemampuan.
Tulisan ini dipublikasikan di Berita. Tandai permalink.

Satu Balasan ke SIPASADA -Simanjuntak Siopat Sada Ama -Bonapasogit

  1. Harry Simanjuntak berkata:

    Selamat atas terbentuknya Sipasada di Bonapasogit. Kita harap misi mempersatukan marga Simanjuntak bisa terwujud. Untuk itu para pengurus agar bekerja keras dan jangan lemah apalagi mundur oleh rayuan atau intimidasi. Salut untuk Ketua Sipasada Pekanbaru, Bapauda Raja Tartar Simanjuntak. Horas.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s